Rumah Flora Seri Nusantara Episode 2
Gutta percha: Kejayaan Masa Lalu Sukabumi
Gutta percha adalah material hasil purifikasi getah tumbuhan dari famili sapotaseae, jadi secara kimia dia mirip sekali dengan karet tetapi memiliki perbedaan struktur atomnya. Gutta percha sendiri sebenarnya material yang dihasilkan oleh beberapa spesies dalam famili sapotaceae. Sapotaseae adalah keluarga sawo-sawoan, seperti kita tahu keluarga sawo-sawoan memiliki getah putih, beberapa spesies menghasilkan gutta percha ini di dalam getahnya. Salah satu yang menghasilkan gutta percha dengan kualitas baik itu Palaquium gutta. Palaquium gutta ini habitusnya pohon besar tinggi 25-45 m tumbuh di dataran rendah hingga mountain forest dengan ketinggian 1600 mdpl, buahnya secara ekologi merupakan pakan dari mamalia dan burung hutan. Karakter daunnya berbentuk spiral kemudian di belakang daunnya berwarna cokelat keemasan. Minyak dari bijinya bisa digunakan untuk masak di masyarakat Borneo, dan getahnya digunakan untuk berbagai macam kerajinan secara tradisional.

Balok gutta percha yang masih tersimpan di pabrik Cipetir
Gutta percha ini disebut karet, karena memiiliki struktur seperti karet tetapi karakternya berbeda dengan karet. Seperti kita tahu karet pada suhu ruang atau suhu panas dia tetap lentur, seperti karet gelang yang bisa kita tarik-tarik. Sedangkan gutta percha sendiri ketika dipanaskan pada suhu 65 °C dia akan lentur, lalu pada suhu kamar akan keras sekali seperti balok yang kita lihat pada poster, karakter tersebut yang membedakan karakter karet biasa dengan gutta percha, masyarakat Sukabumi menyebutnya dengan karet oblong, walaupun berbeda famili kita sama-sama menyebutnya karet gutta percha atau karet oblong.
Penemuan gutta percha jauh ketika 1656, itu ketika ada seseorang pengembara lautan John Tradescent, dia membawa sebuah material yang dia sebut sebagai facer wood atau mangkok berbentuk kayu yang ketika dicelupkan di air dia lentur. Tapi masyarakat dari Inggris itu tidak mengetahui asalnya dari mana kemudian John Tradescent sendiri tidak tau asal usul material ini dari mana, itu yang menjadi pertanyaan besar mereka bertahun-tahun.
Pada 1843 Dr William Montgomery mempraktekan suatu alat yang digunakan dari hasil bentukan gutta percha yang dipraktekan Bengal Medical Board sama Royal Society of Arts di London itu langsung boom. Bahwasanya ada material seperti ini yang berasal dari Asia tropis. Pada 1843 itu Dr William Montgomery dikenal sebagai orang yang menemukan material gutta percha itu.
Jika kita membayangkan penggunaan gutta percha masa lalu itu ibaratkan kita menggunakan plastik seperti sekarang. Jadi bisa dibilang gutta percha itu plastik alami dari tumbuhan, jadi ketika dipanaskan plastik itu akan meleleh kemudian dibentuk-bentuk ketika dingin keras, jadi ember jadi macam-macam. Pada abad 19 itu memang belum ditemukan plastik, memang plastik ini secara komersil dimanfaatkan pada awal tahun abad 20. Kurang dari 100 tahun dari penemuan gutta percha. Pada jaman dulu masyarakat Inggis atau masyarakat Eropa menemukan material dengan karakter seperti ini membuat bagian dari perahu, kemudian sol sepatu, furnitur, pelapis perabot, gagang tongkat, gagang pistol, hiasan dinding, pinggiran cermin, kemudian banyak alat medis, yang fenomenal itu dental filling untuk menutup bagian dari akar gigi yang diperkenalkan 1847, sebelumnya juga ditemukan pelapis bola golf pada 1845.
Yang lebih fenomenal adalah tahun 1887 adalah dtemukannya pelapis kabel telegram di bawah laut sampai ada perusahaan Inggris yang dibangun 1845 menghasilkan keuntungan yang besar sepanjang tahun itu. Ketika jaman dulu belum ditemukan plastik, kemudian ditemukan gutta percha dan itu sangat bermanfaat untuk berbagai macam hal sehingga permintaannya banyak sekali. untuk saat ini gutta percha masih digunakan untuk dental filing yang belum dapat tergantikan, pengembangan tulang buatan di Jerman, juga mainan fancy anak-anak, juga dalam industri otomotif.
Di Asia Tenggara persebaran Palaquium gutta alaminya ada di Borneo, Malaya, dan Sumatra. Kemudian Palaquium gutta ini didatangkan ke Jawa dan ditanam besar-besaran pada tahun 1885. Pabrik yang masih berdiri hingga saat ini hanya ada di Cipetir. Pernah ada catatan bahwa di Bandung dan Sumatra penah ada kebun gutta percha namun tidak ada kabar perkembangan. Sepertinya oleh kolonial Belanda memang difokuskan di Jawa (Cikidang, Sukabumi) dan berutungnya hingga sekaarang pabriknya masih berjalan dan menghasilkan gutta percha, jadi mereka masih berjalan by order, karna permintaan memang tidak sebanyak dulu.

Pabrik getah gutta percha yang masih berjalan hingga saat ini
Lokasi perkebunan Cikidang dirasa paling ideal. Secara geografis akses perkebunan Cikidang dekat dengan Jakarta, dan lingkungan tumbuh untuk Palaquium gutta yang sesuai seperti faktor suhu, air, dan drainasenya. Serta lokasi pabrik dekat dengan Sungai Ciletuh yang menjadi sumber air selama pengolahan. Berdasarkan catatan literatur perkebunan Ciletuh mulai didirikan pada tahun 1885, sedangkan pabriknya selesai dibangun pada 1921.
Secara umum introduksi Palaquium gutta ini tidak lepas dari peran Kebun Raya Bogor (KRB) yang mendatangkannya ke Jawa pada tahun 1866. Tanaman yang ada di Cipetir kemungkinan berasal dari anakan Palaquium gutta yang berada di KRB atau mungkin langsung didatangkan dari habitat aslinya. Cipetir merupakan bagian dari Kebun Raya Bogor, dimana Cipetir ini menjadi kebun percobaan KRB. Saat itu Melchior Treub memerintahkan William Burk membuat kebun Palaquium gutta di Cipetir. Palaquium gutta yang awal ditanam di KRB bertahan hingga tahun 2010, dan saat ini telah didatangkan kembali bibit dari kebun Cipetir untuk ditanam kembali di KRB.

Pohon induk gutta percha di perkebunan Cipetir
Getah gutta percha terdapat pada semua bagian tumbuhan. Pemanenan dapat dilakukan dengan memangkas ranting pohon untuk kemudian digiling bagian ranting beserta daunnya, pada mulanya pemanenan getah dilakukan dengan menebang pohonnya langsung dan kemudian getahnya dialirkan. Getah gutta percha mempunyai kekentalan yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan getah karet (Hevea brasiliensis).
Gutta percha awalnya ditemukan oleh bangsa Inggris. Kemudian Inggris mengeksplor area jajahannya Semenanjung Malaya dan Serawak termasuk Singapura. Pada 1845-1847 berdasarkan catatan di Singapura sendiri sudah ditebang 69.180 pohon. Seorang ekonom Prancis, Serules mengatakan pada masa itu Palaquium gutta dimungkinkan punah di Singapura. Kemudian di daerah Serawak dilaporkan sudah 3 juta pohon ditebang. Berdasarkan literatur yang diterima bahwa dari 1 ton daun hanya menghasilkan gutta percha 13 kg.
Pada zaman dulu pengantaran pesan dilakukan transportasi secara fisik langsung. Pada masa itu penyampaian informasi sangatlah lambat hingga membutuhkan waktu berbulan-bulan. Dengan ditemukannya gutta percha ini ada kode-kode yang dapat dikirimkan melalui kabel listrik, ini sangat mempersingkat waktu. Penemuan gutta percha sebagai pelapis kabel bawah laut ini merupakan suatu kemajuan di dunia. Jaringan telegram bawah laut di dunia tebentang sepanjang 370.000 km sejak ahir abad 18. Jaringan sepanjang 370.000 km itu membutuhkan sebanyak 27.000 ton gutta percha.
Pada awal abad 19 dalam annual report di Botanic Garden Singapore dinyatakan bahwa Singapura bisa makmur salah satunya adalah karena kontribusi besar dari gutta percha ini. Singapura dulu mengolah bahan gutta percha dari Serawak, Semenanjung Malaya, dari Singapura sendiri dan sebagian dari Jawa. Perdagangan sangat pesat sekali sehingga Singapura bisa berkembang seperti sekarang.
Gutta percha ini begitu fenomenal pada zaman dulu sebelum ditemukannya plastik. Sumber daya dari tropis ini dibawa hingga ke Inggris untuk diubah menjadi berbagai macam barang hingga ahirnya mengubah komunikasi dunia. Kita patut berbangga bahwa perkebunan Cipetir ini satu-satunya di dunia yang masih menghasilkan gutta percha, dan perkebunan ini berhasil mengelola perkebunan eksitu dan menjadi berkelanjutan. Palaquium gutta ini telah ditetapkan menjadi tumbuhan identitas Kabupaten Sukabumi.

Bentuk balok gutta percha yang diproduksi pada saat ini
Palaquium gutta ini mempunyai peran penting sebagai tonggak perkembangan teknologi komunikasi dunia dan terus berkembang hingga saat ini menjadi teknologi wireless.
Sumber gambar: Prima W.K. Hutabarat.