Menanam yang Seharusnya Tumbuh: Tentang Pentingnya Jenis Asli dalam Lanskap yang Dipulihkan
Dalam setiap upaya memulihkan lanskap, baik itu restorasi, reforestasi, rehabilitasi, hingga penghijauan, pemilihan jenis tumbuhan yang tepat akan menentukan arah masa depan suatu ekosistem. Di antara berbagai pilihan, jenis asli (native species) lah yang seharusnya dipilih. Mereka bukan hanya tepat, tetapi memang lahir dan tumbuh dari sistem yang sama—tipe khas ekosistem setempat.

Salah satu lanskap yang pernah disambangi tim survei biodiversitas Botanika—hutan Kehje Sewen, Muara Wahau, Kalimantan Timur
Jenis asli telah memiliki kemampuan adaptif. Mereka telah melalui proses seleksi alam yang panjang, membentuk relasi kompleks dengan ekosistemnya, mulai dari mikroba tanah hingga satwa liar dalam satu jaringan kehidupan yang saling terikat. Karena itu, kehadiran jenis asli yang mempunyai risiko rendah terhadap efek pergeseran keseimbangan ekosistem, mampu memperkuat sistem yang telah ada.
Lebih jauh, ketika jenis asli yang digunakan merupakan jenis endemik atau bahkan langka, maka upaya penanaman juga menjadi bagian dari aktivitas konservasi yang lebih luas. Jenis-jenis ini umumnya memiliki sebaran terbatas, populasi kecil, serta menghadapi tekanan besar dari degradasi habitat dan eksploitasi. Dengan membawanya ke dalam program penanaman, kita telah meningkatkan dan menambah populasinya, memperkaya keragaman genetiknya, dan membuka ruang bagi terbentuknya sumber plasma nutfah baru di luar habitat alaminya.
Dalam praktiknya, Botanika telah menginisiasi penanaman beberapa jenis asli langka dan endemik sebagai bagian dari koleksi hidup sekaligus upaya konservasi. Salah satunya adalah Kayea borneensis, spesies pohon endemik Kalimantan yang saat ini berstatus rentan (vulnerable). Bibitnya diperoleh dari cabutan alam saat survei biodiversitas di Muara Wahau, Kalimantan Timur, kemudian dipelihara di persemaian dengan media sederhana: topsoil, kompos, dan sekam (1:1:1). Pertumbuhannya berjalan lambat, dalam satu tahun hanya mencapai tinggi sekitar 40 cm.

Kayea borneensis yang telah ditanam di lapangan
Jenis lainnya adalah Anisoptera costata, pohon dari keluarga Dipterocarpaceae yang kini berstatus terancam (endangered). Meskipun memiliki sebaran cukup luas di Asia Tenggara, tekanan terhadap habitat alaminya membuat populasinya terus menurun. Bibit jenis ini diperoleh dari seedling bank di bawah pohon induk di kawasan Gunung Sanggabuana, Jawa Barat.

Pohon induk Anisoptera costata di Sanggabuana, Jawa Barat
Proses pembibitannya tidak mudah, bahkan sempat mengalami kematian pucuk akibat kekeringan. Namun setelah dua tahun, tunas baru muncul dengan struktur batang yang lebih kuat, menandai kesiapan untuk ditanam di lapangan.

Anisoptera costata yang telah ditanam di alam
Dari proses-proses kecil ini, kita belajar bahwa konservasi tidak selalu hadir dalam skala besar dan spektakuler penuh seremoni. Ia tumbuh dari keputusan-keputusan sederhana, memilih jenis yang tepat, merawatnya dengan sabar, dan memahami bahwa setiap individu tumbuhan membawa kisah panjang tentang ekosistem asalnya. Menanam jenis asli bukan sekadar menanam pohon, tetapi mengembalikan ingatan lanskap tentang dirinya sendiri.