Kader Konservasi — Peran Serta Masyarakat dalam Menjaga Alam
Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) merupakan ekosistem hutan hujan pegunungan terluas di Pulau Jawa dengan luas kawasan 113.357 hektare. Lingkup kawasan TNGHS sangat beragam dan mempunyai fungsi penting bagi kehidupan. Hutannya yang lebat menjadi rumah bagi ratusan jenis flora dan fauna, serta kelompok-kelompok masyarakat yang hidup di dalamnya. Selain itu, kawasan TNGHS memiliki peran dan fungsi ekologi yang tinggi dalam menjaga kelestarian air, udara, dan ekosistem untuk kabupaten-kabupaten sekitarnya.
Taman Nasional dalam menjalankan fungsinya pada aspek ekologi, sosial, ekonomi, dan budaya tersebut membutuhkan sumber daya dari berbagai kalangan untuk pengelolaan dan pelestariannya. Salah satunya, pelibatan masyarakat sekitar melalui program pembentukan dan pembinaan kader konservasi. Kader konservasi adalah seseorang atau sekelompok orang yang telah diberikan pendidikan oleh lembaga pemerintah maupun non-pemerintah yang secara sukarela berperan dan bersedia sebagai penerus dalam upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, serta mampu menyampaikan pesan-pesan konservasi kepada masyarakat. Para kader konservasi dipilih dari berbagai kelompok masyarakat, seperti siswa SMA, kelompok pemuda, tokoh masyarakat, mahasiswa, dan jaringan penggerak masyarakat di desa-desa sekitar TNGHS.

Pembukaan kegiatan pembinaan kader konservasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak
Rangkaian pembentukan dan pembinaan kader konservasi TNGHS telah dilakukan pada tanggal 11-12 Oktober 2023, yang dilaksanakan di Pusat Suaka Satwa Elang Jawa (PSSEJ) Loji Desa Pasirjaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor. Peserta yang berjumlah 30 orang menghadiri pelatihan dengan materi terkait analisis vegetasi, pengamatan satwa, navigasi darat, dan pemetaan.
Dalam kegiatan ini, Yayasan Botanika berpartisipasi sebagai narasumber untuk menyampaikan materi seputar ekosistem dan teknik dasar analisis vegetasi untuk mengetahui komposisi jenis dan struktur vegetasi hutan. Materi ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan tentang tata cara analisis vegetasi dan meningkatkan keterampilan peserta dalam menggunakan metodenya, sehingga dapat mengetahui tumbuhan penyusun hutan dan dominansinya, potensi pakan dan habitat satwa, serta persebaran jenis tumbuhan langka, endemik maupun invasif.

Pemberian materi tentang analisis vegetasi oleh Tim Botanika

Pembuatan jalur transek untuk penentuan plot pengambilan data vegetasi dan satwa
Materi lainnya yaitu survei fauna, navigasi darat dan pengambilan data peta juga diberikan oleh Balai TNGHS. Materi survei fauna diharapkan dapat memberikan ilmu kepada peserta yang mencakup metode dan analisis dalam pengamatan satwa liar. Peserta juga diharapkan mengenal pengetahuan dasar navigasi darat terkait penggunaan kompas dan peta, sehingga mampu untuk menentukan arah dan posisi, baik di peta maupun di medan sesungguhnya. Sedangkan materi tentang peta bertujuan untuk pengenalan prinsip-prinsip pemetaan, pengambilan data peta menggunakan Pesawat Udara Tanpa Awak (PUTA)/drone serta analisisnya.

Praktik navigasi darat

Peserta pembinaan kader konservasi
Pembinaan kader konservasi ini diharapkan dapat meningkatkan wawasan dan kesadaran peserta, serta teknis implementasinya dalam upaya konservasi dan pengelolaan lingkungan hidup yang baik.