Selidik Balik: Fokus Bioprospeksi di Rawa Gambut Sebangau nan Asri

Selidik Balik: Fokus Bioprospeksi di Rawa Gambut Sebangau nan Asri

Pada 4–6 November 2025, Botanika kembali memperkuat kolaborasi riset bersama Balai Taman Nasional Sebangau, Pusat Riset Ekologi BRIN, dan Pusat Riset Botani Terapan BRIN melalui pelaksanaan kajian lanjutan bioprospeksi di dalam kawasan Taman Nasional Sebangau. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen bersama untuk mengembangkan riset berbasis pengetahuan lokal dan ekologi hutan rawa gambut sebagai fondasi pemanfaatan sumber daya hutan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Riset ini melanjutkan studi etnobotani dan bioprospeksi yang telah dilakukan pada tahun 2022, yang berhasil mendokumentasikan ratusan jenis tumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat desa penyangga kawasan Sebangau. Dari hasil tersebut, putat (Barringtonia lanceolata) teridentifikasi sebagai salah satu jenis dengan potensi tertinggi untuk dikembangkan lebih lanjut. Pada kajian kali ini, fokus penelitian diarahkan pada pengambilan sampel putat dalam jumlah yang memadai untuk analisis senyawa kimia tahap lanjut, pengkajian karakteristik habitat dan asosiasi vegetasinya, serta pengumpulan jenis pembanding Barringtonia cf. acutangula yang memiliki pemanfaatan serupa oleh masyarakat setempat. Selain itu, tim juga mulai mengeksplorasi potensi pendu (Sterculia gilva), tumbuhan pangan lokal unik yang getahnya dimanfaatkan secara tradisional—getah dari pohon ini mempunyai tekstur seperti jeli yang oleh masyarakat setempat diolah menjadi bahan pangan seperti bubur atau papeda dan menjadi salah satu pangan tambahan.

Kegiatan pengambilan data karakteristik tumbuhan putat dan pendu dibagi menjadi dua tim. Tim pertama mengkaji karakteristik habitat putat dengan melakukan pembuatan petak ukur vegetasi dan pengukuran kondisi lingkungan dan tim kedua melakukan koleksi sampel putat dan pendu dalam waktu yang bersamaan.

Seluruh kegiatan penelitian dilakukan di kawasan Sungai Punggualas, Resort Baun Bango, sebuah bentang alam hutan rawa gambut yang masih relatif utuh dan menjadi laboratorium alam bagi riset keanekaragaman hayati, dinamika ekosistem gambut, serta hubungan manusia dengan lingkungannya melalui pengelolaan wisata alam.

Ekologi Barringtonia lanceolata sendiri merupakan jenis khas hutan rawa gambut. Populasinya cukup melimpah dengan frekuensi perjumpaan yang cukup tinggi di sepanjang Sungai Punggualas maupun sampai ke dalam area interior kanan kiri hutan sepanjang sungai terutama yang masih terpengaruh oleh genangan air atau kondisi hutan rawa gambut dengan muka air yang tinggi. Kemungkinan jenis ini mempunyai asosiasi yang kuat terhadap tingkat kedalaman lapisan gambut dan tinggi muka air namun untuk pengambilan data saat ini belum bisa menyimpulkan hipotesis tersebut karena titik pengambilan data masih terpusat dan terletak pada area dengan kedalaman gambut yang relatif sama. Sedangkan untuk ekologi Barringtonia cf. acutangula lebih ke wilayah ekosistem riparian sungai besar yang mendapatkan suplai nutrisi dari endapan sedimen sungai, meskipun saat observasi juga dijumpai populasi kecilnya di anak sungai. Jenis ini tidak dijumpai di dalam interior hutan rawa gambut Punggualas saat observasi.

Pendu (Sterculia gilva) mempunyai populasi yang lebih terpencar dengan perjumpaan yang relatif cukup jarang saat observasi dan pendataan. Sebagian besar pohon pendu yang dijumpai saat observasi mempunyai kondisi fisik batangnya yang berbenjol akibat pengambilan getah yang dilakukan secara cukup rutin dengan periode yang sudah cukup lama.

Kajian lapangan tidak hanya menghasilkan data ilmiah terkait vegetasi dan ekologi tumbuhan target, tetapi juga memperlihatkan keterkaitan erat antara kelestarian ekosistem dengan keberadaan satwa liar kunci, seperti orangutan Kalimantan, yang menjadi indikator penting kesehatan hutan.

Saat observasi, tim berhasil mengalami perjumpaan langsung dengan orang utan (Pongo pygmaeus). Tim peneliti terpukau menyaksikan aktivitas orang utan berupa induk dan anaknya yang sedang asyik bergelayutan dan menikmati kuncup dan buah dari pohon terentang. Selama sekitar 15 menit tim peneliti mengamati induk orang utan yang lebih besar ukurannya dibanding manusia dewasa dengan rambut cokelat kemerahan yang aktif berpindah ke sana kemari mencari pucuk-pucuk dan buah pohon terentang sedangkan sang anak yang berukuran kurang lebih sekira manusia berumur 8 tahun lebih sigap dan waspada mengawasi manusia yang sedang mengamatinya dan sesekali merontokkan ranting-ranting kering dan melemparnya ke bawah yang kemungkinan sebagai perilaku mempertahankan dirinya. Perjumpaan yang sangat luar bisa tersebut menandakan kapasitas ekosistem hutan di wilayah Punggualas yang masih relatif utuh dan mampu menyediakan relung habitat yang sesuai bagi keberlangsungan hidup berbagai satwa liar penting tersebut serta kekayaan hayati keseluruhan beserta potensi pemanfaatannya yang masih sangat tinggi.

Melalui kolaborasi lintas lembaga ini, Botanika mengambil peran sebagai penghubung antara riset ilmiah, pengelolaan kawasan konservasi, dan penguatan pengetahuan lokal. Hasil kajian diharapkan dapat menjadi pijakan ilmiah bagi pengembangan produk berbasis hayati yang adiluhung nan etis, sekaligus mendukung strategi konservasi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa penyangga Taman Nasional Sebangau. Kolaborasi ini menegaskan keyakinan Botanika bahwa riset yang baik lahir dari kerja bersama, penghayatan dalam terhadap alam, dan komitmen jangka panjang untuk menjaga ekosistem.

Add a Comment