Penelusuran Kembali: Kemegahan dan Kekayaan Hayati Tumbuhan di Hutan Kehje Sewen
Pada Februari 2026, Yayasan Botanika kembali menjelajahi Hutan Kehje Sewen, lanskap seluas ±86.000 ha di pedalaman Kalimantan Timur yang dikelola PT Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI) di bawah BOS Foundation. Kolaborasi ini melanjutkan kerja sama tahun 2024 melalui pembangunan petak ukur permanen (PUP) yang kali ini dilakukan pada tutupan hutan yang berbeda. Selain menghasilkan basis data penting bagi pemantauan dinamika ekosistem, kegiatan ini juga merekam kekayaan hayati tumbuhan sebagai fondasi informasi biodiversitas hutan Kehje Sewen.

Kehje Sewen—rumah orangutan dan penjaga air dari hulu. Lanskap yang utuh ini bukan hanya menyimpan kekayaan hayati, tetapi juga mengatur kehidupan jauh di hilir melalui fungsi lindungnya yang tak tergantikan.
Kehje Sewen—bermakna “rumah orangutan” dalam bahasa Dayak—merupakan habitat pelepasliaran orang utan dengan mosaik lanskap dari dataran rendah hingga pegunungan (150–1.950 mdpl). Hutan ini relatif utuh dengan beragam mikrohabitat, dapat menopang jaringan ekologis yang kompleks, dari tegakan pohon besar hingga satwa kunci seperti burung enggang dan orang utan. Letaknya di wilayah hulu menjadikan kawasan ini berperan vital sebagai daerah tangkapan air yang memengaruhi sistem kehidupan di hilir.
Petak ukur permanen kali ini dibangun di hutan primer submontana pada ketinggian ±1.200 mdpl, sekitar 23 km dari Camp Lesik. Perjalanan menuju lokasi tidak mudah—jalan rusak, pohon tumbang, sungai meluap, dan hujan tiada henti mengharuskan tim bermalam di perjalanan.

Perjalanan menuju lokasi PUP tak selalu mulus. Tumbangan pohon menghadang, jalan berlumpur memperlambat langkah, dan hujan yang turun hampir tanpa jeda membuat sungai meluap hingga tak bisa diseberangi. Dua malam kami bermalam di tepi sungai, menunggu air surut sambil menjaga logistik dan semangat tetap utuh. Di situlah kami belajar bahwa kerja lapangan bukan hanya soal data dan koordinat, tetapi tentang kesabaran, kebersamaan, dan kemampuan beradaptasi dengan ritme alam.
Tegakan pada PUP kali ini didominasi famili Fagaceae, Lauraceae, dan Myrtaceae, dengan kanopi megah dan kelembapan tinggi yang ditandai adanya lumut yang tumbuh hampir di seluruh permukaan pohon dan lantai hutan. Setiap petak menghadirkan variasi vegetasi bawah dan permudaan yang berbeda, menegaskan kompleksitas struktur dan komposisi hutan pegunungan ini.

Di ketinggian ±1.200 mdpl, kanopi megah didominasi Fagaceae, Lauraceae, dan Myrtaceae menyambut setiap langkah. Variasi tegakan dan vegetasi bawah yang kompleks menjadi bukti bahwa hutan pegunungan menyimpan cerita ekologis yang dalam.
Bagi Botanika, kegiatan ini bukan sekadar pengumpulan data, melainkan ruang belajar tentang pengelolaan habitat, monitoring pasca-pelepasliaran orangutan, serta dinamika pengelolaan kawasan restorasi. Data yang dihasilkan menjadi pijakan penting bagi PT RHOI sekaligus sejalan dengan visi konservasi Botanika. Semoga kolaborasi ini terus tumbuh dan memberi makna bagi keberlanjutan hutan Kehje Sewen.

Kembali menapak Kehje Sewen, melanjutkan kolaborasi dan membangun petak ukur permanen sebagai fondasi pemantauan dinamika hutan. Dari kerja lapangan inilah data tumbuh, dan dari data itulah arah pengelolaan ditentukan untuk menjaga lanskap restorasi agar tetap hidup untuk generasi berikutnya.