Botanika Hadir di INZS 2025: Dorongan Kolaboratif Mewujudkan Emisi Nol untuk Indonesia Hijau

Botanika Hadir di INZS 2025: Dorongan Kolaboratif Mewujudkan Emisi Nol untuk Indonesia Hijau

Jakarta, 26 Juli 2025—Pada gelaran Indonesia Net-Zero Summit (INZS) 2025, Yayasan Botani Tropika Indonesia (Botanika) turut hadir sebagai lembaga mitra, mengukuhkan pentingnya pengambilan peran Botanika dalam mempertemukan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian sumber daya alam di tengah krisis iklim yang kian kompleks.

Dalam forum dengan tema “Raising Indonesia’s Game: Staying Climate-Focused in Times of Great Distraction”, INZS 2025 menghadirkan berbagai pemangku kepentingan mulai para pejabat pemerintah, think tank, diplomat, aktivis, pelaku usaha, akademisi, media, pelajar, selebritas, masyarakat umum, dan berbagai kalangan lainnya untuk membahas isu-isu iklim, khususnya di Indonesia.

Forum ini terbagi dalam dua agenda utama, yaitu beberapa panel diskusi dan pameran dari beberapa mitra. Dari beberapa panel diskusi yang diselenggarakan, kami berkesempatan untuk mengikuti salah satu sesi dengan tajuk “Menemukan Keseimbangan antara Ketahanan dan Kelestarian Lingkungan”, garis besar pembahasannya adalah untuk menelusuri sejauh mana keselarasan program pembangunan yang dicanangkan oleh pemerintah khususnya program ASTA CITA, dengan realitas pelaksanaan di lapangan yang bersinggungan langsung dengan lingkungan.

Bersama lima narasumber di atas, diskusi mengalir hangat secara dinamis dan terbuka dengan mengemukakan sudut pandang dari masing-masing pihak. Salah satu pembicaraan yang disoroti berawal dari misi ASTA CITA yang ingin meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional hingga mencapai 8% pada tahun 2028 yang menurut pemerintah harus dapat didukung dengan kemandirian di segala sektor. Akan tetapi, beberapa realisasi di lapangan tampaknya tidak selaras dan memiliki kecenderungan untuk mengancam kestabilan lingkungan yang terlihat dalam bencana iklim permanen yang masih terus berlangsung dan latar belakang bisnis yang membayangi setiap aksi. Selain itu, adanya gap besar antara kebijakan di tingkat pusat dan pelaksanaannya di daerah. Banyak kebijakan progresif di tingkat nasional yang belum sepenuhnya diterjemahkan atau diimplementasikan secara nyata di tingkat daerah. Hal ini menghambat laju perubahan di lapangan, terutama dalam konteks pengelolaan ruang, tata kota, dan penguatan ketahanan ekosistem. Kebijakan menjadi langkah awal yang menjanjikan, namun keberhasilannya tentu bergantung pada konsistensi pengawasan, insentif yang adil, dan dukungan sosial-politik di tingkat daerah.

Pada akhirnya, setiap program pembangunan yang dijalankan pemerintah idealnya tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperhatikan prinsip keberlanjutan lingkungan. Salah satu aspek penting adalah komitmen terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca, termasuk melalui pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil. Fakta bahwa Indonesia masih termasuk dalam sepuluh besar negara penyumbang emisi karbon global menegaskan bahwa isu ini perlu menjadi prioritas bersama. Upaya transisi menuju energi terbarukan, seperti biomassa, menjadi salah satu solusi yang potensial, mengingat ketersediaan bahan baku biomassa yang melimpah di Indonesia.

Namun, penguatan ekonomi yang berorientasi pada iklim tidak cukup hanya dengan solusi teknologi. Diperlukan pendekatan yang menyeluruh dan konkret dari seluruh pemangku kepentingan. Mulai dari memastikan aktivitas ekonomi tidak merusak daya dukung ekosistem, mendorong inovasi dalam pengelolaan sektor energi, pertanian, dan tata ruang, hingga membangun sistem pembiayaan hijau yang adil dan inklusif. Lebih jauh, keadilan sosial dan pemerataan manfaat bagi kelompok rentan harus menjadi pilar dalam setiap proyek pembangunan agar keberlanjutan tidak hanya menjadi jargon, melainkan arah kebijakan yang nyata.

Pada gilirannya, kehadiran Botanika dalam INZS 2025 merupakan bentuk komitmen kami untuk terus terlibat dalam ruang-ruang dialog strategis yang mempertemukan sains, kebijakan, dan aksi kolektif. Sebagai lembaga yang bekerja di bidang pelestarian keanekaragaman hayati dan penguatan masyarakat lokal, kami percaya bahwa keseimbangan antara ketahanan dan kelestarian hanya dapat dicapai melalui kolaborasi yang setara, berkelanjutan, dan berpihak pada masa depan bersama.