Harapan Baru Saninten dan Tungurut di Hutan Pegunungan Jawa Barat
Saninten (Castanopsis argentea) dan tungurut (Castanopsis tungurrut) merupakan dua jenis tumbuhan dari suku Fagaceae yang umum dijumpai di hutan pegunungan bawah. Kedua jenis tumbuhan ini telah lama dikenal sebagai pohon pakan untuk beragam jenis satwa liar di dalam hutan, selain itu buah saninten dan tungurut pun memiliki rasa yang cukup enak untuk dikonsumsi. Namun, seiring dengan tingginya perubahan lahan yang terjadi, illegal logging di masa lampau, sulitnya perkecambahan alami, biji yang dimakan hewan liar (babi hutan, owa jawa), dan berbagai tekanan lingkungan lainnya mengakibatkan kedua jenis ini kini termasuk ke dalam jenis tumbuhan terancam (endangered) berdasarkan daftar merah IUCN. Bahkan, dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 disampaikan salah satu jenis tumbuhan dilindungi di Indonesia adalah saninten.

saninten (Castanopsis argentea)

tungurut (Castanopsis tungurrut)
Berbagai upaya kolaborasi untuk meningkatkan populasi saninten dan tungurut, khususnya di hutan pegunungan Jawa Barat telah dilakukan. Berbagai lembaga telah bersama-sama melakukan studi persebaran pohon induk, upaya perbanyakan jenis tumbuhan langka hingga berbagai kegiatan konservasi lainnya yang direncanakan guna meningkatkan populasi dan pemulihan habitat dari kedua jenis tumbuhan langka ini. Kegiatan kolaborasi ini telah dilaksanakan sejak tahun 2023, adapun berbagai lembaga yang terlibat di antaranya Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi BRIN, Yayasan Botanika, Perhimpunan Masyarakat Etnobiologi Indonesia (PMEI), Botanic Gardens Conservation International (BGCI), Franklinia Foundation, dan berbagai kelompok tani hutan yang terlibat.

bibit tungurut
Aktivitas terkini yang telah kami laksanakan bersama yaitu “Lokakarya Pengenalan dan Penerapan Teknologi Budidaya Saninten (Castanopsis argentea) dan Tungurut (Castanopsis tungurrut) di Taman Nasional Gunung Halimun Salak” pada 18-19 September 2024. Kegiatan ini berupa pemaparan kondisi terkini kondisi dan kekayaan keanekaragaman hayati di dalam kawasan TNGHS, riset terkini mengenai saninten dan tungurut dan praktik mengidentifikasi empat jenis Castanopsis spp. yang dapat dijumpai di TNGHS, yaitu Castanopsis acuminatissima, C. argentea, C. javanica, dan C. tungurrut. Dalam kegiatan kali ini pun turut dihadiri oleh seluruh perwakilan kolaborator dan kelompok tani, bahkan Dr. Greetha Arumugam dan David Justin R. Ples sebagai perwakilan dari Southeast Asia Botanic Gardens (SEABG) turut menambahkan berbagai masukan dan pandangan dalam peningkatan upaya konservasi tumbuhan langka di hutan pegunungan Jawa bagian Barat.

lokakarya yang dihadiri oleh seluruh perwakilan kolaborator dengan didampingi langsung oleh Dr. Greetha Arumugam dan David Justin R. Ples sebagai perwakilan dari SEABG.
Penyerahan simbolis 300 bibit saninten dan 100 bibit tungurut pun dilakukan pada akhir diskusi dari tim kolaborator kepada pengelola kawasan konservasi TNGHS. Harapannya, bibit hasil perbanyakan tumbuhan langka ini dapat ditanam pada berbagai area yang sesuai di tahun 2025 mendatang, sehingga dapat meningkatkan populasi dan persebaran jenis saninten dan tungurut di hutan pegunungan bawah TNGHS.

Penyerahan bibit saninten dan tungurut
Kerja sama perbanyakan jenis tumbuhan langka saninten dan tungurut tak hanya dilakukan bersama dengan kelompok tani hutan di sekitar kawasan konservasi, tetapi juga dengan Kelompok Wanita Tani Sugeuma yang berlokasi di Desa Pagelaran, Ciomas. Bersama dengan kelompok tani, kami melakukan berbagai uji coba perbanyakan jenis saninten dan tungurut. Bibit yang dihasilkan pun kini dalam tahap pemeliharaan dan perkembangan hingga bibit-bibit ini dapat siap di tanam pada usia bibit sekitar 1,5 tahun.

Foto bersama tim