Menapak Jejak Tetumbuhan Berpotensi di Hutan Gambut Sebangau
Taman Nasional Sebangau, merupakan kawasan konservasi insitu yang memiliki salah satu ekosistem hutan gambut terluas di Indonesia, menyimpan banyak potensi tetumbuhan untuk obat, pangan, keperluan rumah tangga, konstruksi, maupun yang digunakan dalam acara adat. Kawasan TN Sebangau ditetapkan sebagai taman nasional pada 2004. Secara administrasi, Taman Nasional Sebangau (TNS) terletak di tiga kawasan kabupaten/kota, yaitu, Kota Palangka Raya, Kabupaten Katingan, dan Kabupaten Pulang Pisau Privinsi Kalimantan Tengah. Tingginya potensi yang tersimpan, mendorong TNS, Borneo Nature Foundation (BNF), Yayasan Botani Tropika Indonesia (Botanika) dan beberapa pusat riset dalam Organisasi Riset Ilmu Hayati dan Lingkungan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berkolaborasi untuk mengeksplor lebih jauh potensi dari tetumbuhan yang terdapat di TNS.

Proses koordinasi dalam penentuan metode pelaksanaan studi bioprospeksi.
Melalui kolaborasi ini, kami mengadakan kegiatan Studi Pendahuluan Bioprospeksi di Taman Nasional Sebangau. Kegiatan ini bertujuan mengetahui jenis-jenis tetumbuhan yang masih dimanfaatkan oleh masyarakat di sekitar TNS baik sebagai obat, pangan, keperluan rumah tangga, konstruksi, maupun digunakan dalam acara adat. Selain itu, kami juga mengadakan Training of Trainer (ToT) kepada staf TNS dan stakeholder terkait dengan upaya menfasilitasi pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan konservasi. Kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku fasilitator untuk pendampingan program pemberdayaan masyarakat di sekitar TNS.

Ketua Yayasan Botanika, Fatkurrahman, memberikan Training of Trainer (ToT) kepada staf TNS dan stakeholder terkait dengan upaya menfasilitasi pemberdayaan masyarakat.
Peniwidiyanti selaku ketua tim bioprospeksi menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan langkah awal yang sangat penting untuk menelusuri jejak pemanfaatan tetumbuhan di sekitar Sungai Sebangau oleh masyarakat lokal. “Studi pendahuluan bioprospeksi di TNS dilakukan melalui serangkaian kegiatan wawancara, eksplorasi, dan kajian laboratorium”, ungkapnya saat menghimpun data wawancara di beberapa kelurahan di Kota Palangka Raya.

Kegiatan wawancara untuk mendapat data awal mengenai tetumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat lokal.

Kegiatan eksplorasi yang dilakukan oleh tim guna mendapat tetumbuhan yang telah disebutkan oleh masyarakat.
Pada kesempatan yang lain, Fatkurrahman, selaku ketua Yayasan Botanika, menyatakan, di samping pentingnya kegiatan bioprospeksi di TNS, sumber daya manusia yang akan memanfaatkan perlu diberdayakan untuk menjalankan program yang nantinya berjalan atas dasar dari adanya kegiatan bioprospeksi ini. Kegiatan pelatihan ini juga dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa sungai dan hutan yang mengelilinginya memiliki manfaat secara langsung maupun tidak langsung bagi mereka, sehingga upaya pemberdayaan masyarakat perlu dilakukan tidak hanya oleh pemangku kawasan konservasi.
“Kegiatan menyelia tetumbuhan di sepanjang aliran Sungai Sebangau ini tidak hanya menyingkap potensinya, lebih dari itu, kegiatan ini juga mempertegas upaya konservasi terhadap tetumbuhan yang dimanfaatkan, sehingga keanekaragaman hayati tetumbuhan dapat terjaga eksistensinya”, tutur Asih Perwita Dewi, etnobotanis dari BRIN.

Pohon cempedak hutan, salah satu tetumbuhan yang dimanfaatkan oleh masyarakat.
Dirinya menambahkan, bioprospeksi telah dilakukan secara tradisional oleh masyarakat lokal berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki tanpa adanya pengulikan modern seperti sekarang ini. Yayan Wahyu Kusuma, salah satu peneliti ekologi di BRIN menyatakan setuju dengan pendapat tersebut. Baginya, bioprospeksi tetumbuhan menyimpan benang merah untuk menjawab permasalahan yang dialami oleh manusia dan alam, sehingga keberadaan tetumbuhan mutlak untuk dikonservasi dan dimanfaatkan secara bijak serta berkelanjutan.
“Harapannya, kegiatan ini dapat menghasilkan berbagai inovasi yang dapat dikelola dan dimanfaatkan langsung oleh masyarakat lokal. Untuk mencapai hasil itu, kolaborasi merupakan langkah yang cukup tepat dalam mengharmonisasi masyarakat, peneliti, stakeholder, dan pemangku kawasan konservasi. Eksplorasi bioprospeksi tetumbuhan dapat terus dilakukan untuk menemukan potensi maksimal dari tetumbuhan itu sendiri”. Pungkas Fatkurrahman.

Tas anyaman dari rotan, merupakan salah satu produk yang diolah langsung oleh masyarakat lokal.

Berbagai macam produk yang terbuat dari purun (Lepironia articulata).