Rumah Flora Seri Nusantara Episode 3

Rumah Flora Seri Nusantara Episode 3

Kepulauan Sunda Kecil: Menelisik Risalah Alam Sumba

Rumah Flora episode ketiga telah dilaksanakan pada akhir pekan lalu, Minggu 12 Juni 2022 pada pukul 19.00-20.00 WIB dengan mengangkat topik mengenai Kepulauan Sunda Kecil. Adapun judul diskusi program kolaborasi Botanika dengan Maknakata yaitu “Kepulauan Sunda Kecil: Menelisik Risalah Alam Sumba”.

Program ini kembali disiarkan secara langsung melalui Instagram Live yang dibawakan oleh Peniwidiyanti dan M. Rifqi Hariri, serta menghadirkan Yayan Wahyu Chandra Kusuma sebagai narasumber pada malam itu.

Diskusi diawali dengan penjelasan mengenai keunikan dari Kepulauan Sunda Kecil dan fakta-fakta menarik mengenai Pulau Sumba yang disampaikan oleh Pak Yayan, salah satu peneliti ekologi dalam tim Ekspedisi Widya Nusantara LIPI di Pulau Sumba pada tahun 2016 silam. Diskusi dilanjutkan dengan mengulas mengenai kondisi lanskap Pulau Sumba yang indah, mulai dari ekosistem mangrove, dataran rendah, savana, hingga ekosistem hutan pegunungan yang menyimpan berbagai keanekaragaman hayati untuk disingkap dan digali berbagai potensinya.

Lanskap savana yang terdapat di Pulau Sumba

Beberapa publikasi dan buku referensi terdahulu telah mencatat setidaknya Pulau Sumba memiliki 6 jenis tumbuhan endemik, 2 jenis diantaranya yaitu Dehaasia sumbaensis Kosterm. (Lauraceae) dan Glochidion plagiophyllum Airy Shaw (Phyllanthaceae) termasuk ke dalam status konservasi CR (Critically Endangered) atau Kritis. Adanya alih fungsi lahan dan dampak perubahan iklim memungkinkan berkurangnya populasi tumbuhan terancam punah ini. Meskipun demikian, kesadaran masyarakat setempat dalam upaya konservasi alam sangat tinggi. Adanya peraturan adat istiadat yang masih dijunjung tinggi oleh setiap lapisan masyarakat dan kepercayaan kolektif kalau hutan merupakan tempat para leluhur bersemayam membuat hutan benar-benar harus dilestarikan. Terdapat beberapa prinsip hidup yang hingga kini masih dipegang teguh oleh masyarakat Pulau Sumba yang bila disampaikan dalam bahasa Indonesia. Prinsip hidup yang dipegang oleh masyarakat yang hidup di savana yaitu padang yang tidak boleh dibakar dan pohon yang tidak boleh ditebang. Adapun prinsip hidup yang dipegang oleh masyarakat yang hidup di hutan yaitu tidak menebang pohon yang dianggap sebagai tali yang tidak boleh dipangkas karena habitat bagi monyet dan kakatua.

Kuda sumba yang dibiarkan merumput di savana

Hubungan masyarakat di Pulau Sumba dengan alam masih begitu erat. Masyarakat masih memanfaatkan beberapa tumbuhan potensial sebagai pangan dari kerabat serealia, umbi-umbian, dan kacang-kacangan. Kehadiran tumbuhan terancam punah dan tumbuhan lainnya yang masih belum terungkap pun memerlukan adanya kajian mengenai konservasi secara in situ dan ex situ. Aktivitas penggalian potensi tumbuhan pangan dan asesmen tumbuhan terancam punah ini menjadi sangat penting karena sebagai bentuk antisipasi bila terjadi bencana alam, kerusakan habitat maupun ketidakmampuan tumbuhan untuk bereproduksi secara alami. Berbagai kegiatan konservasi perlu dilakukan dan dikembangkan sebagai upaya dalam pelestarian plasma nutfah Indonesia.

Pemaparan menyeluruh mengenai diskusi ini dapat disaksikan pada akun Instagram @botanika_id dan @hellomaknakata. Sampai jumpa pada Rumah Flora Seri Nusantara Episode 4 pada bulan Agustus mendatang yang akan mengangkat topik seputar Pulau Papua.

Add a Comment

Your email address will not be published.