Rumah Flora Seri Nusantara Episode 1

Rumah Flora Seri Nusantara Episode 1

Ragam Mangga dan Kerabat Liarnya di Sumatra: Botani dan Budaya

Rumah Flora, Rumpi Ilmiah Flora Nusantara, merupakan program diskusi ilmiah seputar dunia tetumbuhan yag berkaitan erat dengan berbagai isu lingkungan hingga budaya masyarakat setempat. Program ini merupakan kolaborasi antara Botanika dengan Komunitas Makna Kata (Instagram: @hellomaknakata). Program ini disiarkan secara langsung melalui Instagram Live setiap dua bulan sekali, di minggu ke-dua.

Program ini diawali dengan tema Ragam Mangga dan Kerabat Liarnya di Sumatra: Botani dan Budaya.

“Mangga memiliki nama lokal, bentuk buah, bahkan rasa yang berbeda-beda di setiap daerahnya” ujar Muhammad Hariri, pembawa acara diskusi.

Narasumber pada tema kali ini adalah Erwina Juliantari atau akrab disapa dengan Wiwin dari Laboratorium Botani Universitas Riau. Beliau sudah terlibat dalam penelitian mangga di Sumatra sejak tahun 2015, walaupun serangkaian kajian mengenai mangga Sumatra ini telah diinisiasi oleh Profesor Fitmawati sejak tahun 2012.

Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi dan mengklasifikasikan mangga menjadi mangga liar dan mangga budi daya. Jenis mangga liar jarang dikenal oleh masyarakat dan masih jarang dimanfaatkan. Hal ini karena mangga liar umumnya memiliki karakteristik buah yang berserat dan rasa yang masam. Selain itu, ada beberapa jenis mangga liar yang memang tidak edible atau tidak dapat dimakan.

Dari penelitian ini, didapatkan 16 jenis mangga, sembilan jenis mangga liar, tiga jenis mangga semi liar, dan empat jenis mangga budi daya.

“Mangga liar, walaupun masih belum banyak dimanfaatkan tetapi memiliki banyak potensi, salah satunya adalah ketahanannya untuk tumbuh di wilayah Sumatra dengan curah hujan tinggi” ujar Wiwin.

Dirinya menambahkan, mangga liar memiliki kandungan aktioksidan yang lebih tinggi dari mangga budi daya. Antioksidan dapat bermanfaat dalam menangkal radikal bebas.

Selain mengklasifikasikannya menjadi mangga liar dan mangga budi daya, penelitian yang telah berjalan juga melakukan aplikasi DNA barcoding dan pemetaan pola distribusinya. Beberapa uji juga dilakukan untuk menunjang penelitian ini, diantaranya, uji imunomodulator, uji antioksidan, uji metabolik, uji toksisitas, uji anti virus, dan beragam aktivitas kajian lainnya agar segera terwujud sebuah produk yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat secara langsung.

“Harapan ke depannya, kami dapat melakukan penelitian fitofarmaka herbal dan menghasilkan produk yang dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat” lanjut Wiwin.

Beberapa mangga yang dimanfaatkan oleh masyarakat diantaranya, buah bacang (Mangifera foetida) muda yang dimanfaatkan sebagai lalapan oleh masyarakat Kabupaten Kampar, Riau. Buah kemang (Mangifera kemanga) yang di jadikan sambal oleh masyarakat Palembang dan Lampung. Mangga kweni (Mangifera odorata) yang dijadikan es oleh masyarakat Riau dan Lampung.

Diskusi ‘Rumah Flora’ yang perdana ini pun mendapatkan sambutan yang hangat dari masyarakat luas. Hal ini terlihat dari banyaknya tanggapan dan pertanyaan yang disampaikan oleh audiens pada kolom percakapan Instagram Live.

“Mangga dalam bahasa Sansekerta, memiliki nama mempelam”, ujar akun dengan nama ipinus.merkusii.

“Selain buah, di beberapa daerah, masyarakat memanfaatkan daun mudanya sebagai lalapan”, jawab Wiwin atas pertanyaan pemanfaatan mangga oleh masyarakat selain buahnya.

“Belum ditemukan jenis mangga yang memiliki toksik sehingga tidak bisa dimakan”, jawab Wiwin atas pertanyaan adakah buah mangga yang tidak bisa dimakan dari akun dedenmatra.

Mangifera casturi atau mangga kasturi hanya ditemukan di daerah Tembilahan, Riau. Mangga ini diduga berasal dari Kalimantan yang sengaja dibawa oleh masyarakat. Masih dilakukan penelitian mengenai hal ini, yaitu mencoba membandingkan mangga kasturi dari Tembilahan dengan mangga kasturi yang berasal dari Kalimantan”, jawab Wiwin atas pertanyaan dari akun dedenmatra.

Pada akhir sesi, Wiwin pun menyampaikan pesan dan harapannya untuk kajian mangga dan kerabatnya di Sumatra.

“Semoga hasil penelitian ini dapat memberikan informasi baru bagi masyarakat. Sehingga dapat mendukung upaya konservasi jenis mangga liar karena beberapa mangga liar sudah mulai langka”, ujar Wiwin.

 

Beliau berharap penelitian ini juga dapat menambah kepedulian kita untuk memelihara kelestarian aneka ragam mangga agar tetap terjaga sebagai sumber plasma nutfah yang nantinya dapat dibudidayakan.

Selain beragam kajian yang telah dilaksanakan sejak tahun 2012, Tim Eksplorasi Mangga Sumatra pun telah berhasil menyusun 2 buku mengenai keragaman mangga dan potensi lainnya, salah satunya buku dengan judul Mangifera of Sumatra: with Chemotaxonomy and Pharmacology. Tentunya, kehadiran buku-buku ini dapat memudahkan berbagai pihak, baik akademisi, praktisi, peneliti maupun masyakarat umum guna mengenali dan memahami karakter setiap jenis mangga yang dijumpai di Pulau Sumatra.

 

 

Add a Comment

Your email address will not be published.